Aku Tak Ingin Bunga Itu Dipetik

Pagi itu, matahari bersinar keemasan. Suara kaki ceria datang dari anak-anak negeri yang berangkat sekolah. Para petani, sudah bersiap ke ladang-ladang. Langit pagi yang teduh tak tunjukkan panas kemarau kali ini.

Gadis itu melangkah ke arah tanah lapang, dengan sebuah buku dalam dekapan. Ia memandang lurus ke depan, menatap matahari yang mulai naik sejengkal. Seorang laki-laki, menyusul ke arahnya. Menatap matanya yang menerawang jauh ke alam. Dalam hati, laki-laki ini mengaguminya. Mengagumi ketegaran yang tersembunyi alam kecantikan lembutnya.

Gadis ini menoleh, “mas, bawa apa?”

Laki-laki itu menampakkan tangan kanan yang disembunyikannya. Terlihat bunga kertas berwarna merah diberikan pada gadis bermata bening itu. “Ini, aku bawa bunga untukmu”.

Menghela gadis itu. Ada raut kekecewaan, “bunganya imitasi”.

Demi mendengar jawaban si gadis bermata bening itu, laki-laki muda ini berputar mencari bunga asli yang bisa ia persembahkan buat si gadis untuk melihat wajahnya tak lagi bersedih. Dilihatnya bunga liar berwarna merah muda. Tepat 3 meter di depan mereka. “Itu bunga asli, di bukan bunga luar negeri. Mungkin tidak istimewa tapi ia tetap menawan sebagaimana dalam bentuk paling alamiahnya”. Laki-laki muda itu menjelaskan.

“Bunga apakah namanya itu, mas?” tanya gadis itu sambil memandang ke arah bunga.

“entahlah”. Jawab lelaki itu.

“Apakah ia selalu ada di setiap pagi beranjak?”

“Dia selalu ada walaupun tidak banyak. Ia selalu optimis melihat kawanan petani yang berlalu lalang di depannya. Ikut riang melihat anak-anak bermain layangan. Dan ikhlas dimakan saat kambing-kambing penduduk desa sedang lapar-laparnya”.

“Tapi saya sukanya bunga cempaka dan bunga kamboja, mas…”. rajut gadis itu lagi. Matanya kali ini beralih ke arah pepohonan yang tertiup angin pagi.

Lelaki itu menjawab dengan lirih “Kamboja selalu aku suka, tapi ia sering kali membuat sedih karea selalu mengingatkanku pada ibunda terkasih. Di atas kuurnya kamboja itu tumbuh an mekar”

“Setidaknya, kamboja telah memberimu banyak ingatan”. Gadis itu beralh memandang laki-laki di sampingnya yang mulai tampak murung.

“Lalu bagaimana dengan Cempaka?” gadis itu menjadi penasaran.

“Cempaka juga bukan hal sederhana” Jawab laki-laki itu menatap pohon  di depannya yang rindang melambai tertiup angin.

“kenapa?”

“Cempaka adalah nama jalan di mana dulu tangan kecil ini sering dituntun dengan penuh kasih”.

“kau sangat mencintai ibumu?”

“Melebihi diriku sendiri”.

“Mas.. bisa kah kau petikkan bunga itu!”. Gadis berleher jenjang itu meminta bunga yang yang ditunjukkan laki-laki itu padanya.

“jangan..!!”

“kenapa?”

“Biarlah ia tumbuh. Dengan kita memetiknya maka kita telah membunuh satu  kehidupan”.

“Iya, mas”.

Pagi terus beranjak. Waktu Dluha mulai menjelang. Para petani sudah berangkat ke arah ladang. Mereka berdua kembali berjalan meneruskan ke arah pulang.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai