Masih mampukah kamu, Nak? Sedikit tersenyum untuk ibumu yang tidak tahu diri ini. Sedikit senyum untuk ibu, Nak. Senyum dengan memperlihatkan gigi-gigimu yang rapi. Itulah yang mampu menguatkan ibu.
Jika kamu ingin marah, marahlah sepuasmu. Tapi nanti, marahlah ketika kita sudah sampai rumah, Nak. Ketika satu keresek besar berisi botol, kertas dan plastik-plastik bekas di tangan ibu dan kresek kecil di tanganmu itu sudah bertengger rapi di pojok rumah kita.
Tunggulah sebentar lagi, Nak. Kuatkan kaki kecilmu yang tanpa alas ini untuk berjalan sedikit lagi. Ibu janji akan memijit kakimu sampai kamu tertidur pulas malam ini.
Ayo, ayo Nak. Kita tidak boleh kalah dengan kelelawar yang beterbangan lincah yang dengan setianya mengintai mangsa di atap rumah kita.
Untungnya, bulan bersinar terang malam ini. Jadi kita bisa melihat jalan dengan jelas tanpa ada salah satu jari kaki kita yang terkantuk batu. Kita juga bisa melihat kanan-kiri kita dengan jalan sehingga berkurag rasa was-was.
Ketika engkau besar nanti, ibu bolehkan kamu memaki, mengumpat, dan menyumpahi dengan senang hati. Karena ibu telah membiarkanmu hidup dalam kemlaratan. Membiarkanmu mengikuti ibu mencari lembar rupiah yang semakin hari semakin tak berarti. Tidak apa, Nak. Lakukan saja makianmu itu kepada ibu, ibu sangat pantas untuk itu.
Tapi, Nak. Ibu mohon padamu. Ijinkan Ibu nanti tetap bersamamu. Ijinkan dirimu tetap menyayangi Ibu. Dan tolong, nanti bilang sama suamimu bahwa makianmu hanya untuk melampiaskan masa-masa kecilmu yang sakit. Tidak ada niat membenci, tidak ada niat mengakimi, apalagi untuk menumpahkan dendam.
Bapakmu biadab, Nak. Dia mati meninggalkan bendungan hutang. Sampai rumah satu-satunya harus tergadaikan disita bank dan berakhir dengan menghilang. Apalagi, Ibu tak paham baca tulis. Buta aksara. Mau kerja jadi susah. Mau ikut orang, tak ada yang mau menerima. Alasan lainnya badan ibu bopeng, penuh bekas gatal. Tidak bersih, makanan jadi tidak higienis. Belum lagi bagaimana kalau nanti anakku tertular? Begitu kata mereka. Tersenyumlah, Nak. Untuk ibu yang butuh penguat ini.
Ibu akan terus menggandengmu, Nak. Kita tidak akan terus miskin seperti ini. Ibu janji.
Tinggalkan komentar