Kartini,
namamu bergelar Raden Ayu,
gelaran terhormat kaum bangsawan,
bangsawan penegak hukum dan martabat,
yang dijunjung lebih tinggi daripada harkat,
dilakoni secara sadar dalam ketakberdayaan,
walau luasan merdeka diberikan terbatas,
bagai ternak mendapatkan kebebasan di kandang,
kau jalani dengan roh dan raga seutuhnya,
hingga tiba di titik pergolakan hati,
manakala kau dinutrisi literatur mewah berkelas.
Kartini,
teramat belia kau menjunjung hukum dan martabat,
untunglah kau punya saudara merengkuh sekolah,
hingga peduli menjadi sikap pada roh yang menggerakkan.
Kau mendapat kebebasan menikmati aksara bertebaran
Multatuli dan para sahabat korespondensi dan diskusi
Tanpa batas suku, agama, ras dan antargolongan.
Kau ladeni, sopani dan ramahi di bangsal keterbatasan.
Mengirim ide terawang melewati selat, samudra dan benua
Kartini,
Namamu tak lekang dan pupus tertelan waktu
17 September 1904 kau wafat dalam usia muda
Dua puluh lima tahun semestinya usia beranjak maju.
Justru di sana kau dikebumikan lalu nama kini kenangan.
Ide kau tinggalkan menggenangi benak kaum pemikir.
Kartini,
Waktu bergeser tiba pada kaum milenial
Kenangan padamu masih terucap riang
Entah untuk gagah-gagahan atau penghormatan.
Kaum wanita menghirup kebebasan di sana-sini.
Sambil meringis pula di area human traficking
Atas dalil tuntutan ekonomi kalangan papa
Kartini,
Aku terus membaca surat-suratmu
Menarik nian mengajak pikir beride segar pembaruan
Terima kasih mewariskan surat-surat itu
Pada mereka yang peduli kebebasan bertanggung jawab.
Tinggalkan komentar