secangkir puisi di ruang sepi
bersama kopi hitam diam di meja
tak juga segera dicoba, disruput
dalam tegukan yang khusuk
memejam meresap rasa puisi
adalah pagi yang resah
gerimis menahan langkah
memanjakan kemalasan
maka tak segera keluar rumah
jendela muram tersiram embun
menjerat debu yang kemaren sore
digiring kendaraan meraung
menyemburkan asap knalpot
sehidang sepi yang puisi
layar televisi dibiarkan mati
tanpa upaya memperbaiki
ah, biarkan sajalah
paling berita ulang yang basi
sinetron merayu mimpi
apalagi tayangan iklan
merogok kantong makin dalam
jika perlu pulang tanpa uang
secangkir puisi dalam kopi
larut dalam hitam yang kelam
tanpa televisi, tanpa koran
pagi yang gerimis
membujuk kemalasan
enggan beranjak bepergian

Tinggalkan komentar